Tuesday, 7 April 2009

Pengamatan Kebudayaan Riau (antorpologi)

Abstrak

Provinsi Riau, dengan Ibukotanya Kota Pekan Baru, terletak di Pantai Timur pulau Sumatera. Wilayahnya meliputi 3214 pulau yang terletak diantara pulau Sumatera dan Selat Malaka, serta Laut Cina Selatan. Penduduknya, yang hanya sekitar 2 juta jiwa, menempati daerah yang luas dan subur, menghasilkan minyak bumi yang melimpah ruah. Hal inilah yang menyebabkan daerah ini maju pesat, karena sektor perekonomian telah tersedia sejak dahulu kala berupa sungai-sungai besar seperti ; Kampar, Siak, Rokan, dan Indagiri.

Metode

Metode adalah suatu cara dalam rangka ilmu tersebut untuk sampai pada kesatuan pengetahuan.

Teknik Pengumpulan data: Wawancara dan Pengamatan

Dalam meneliti tentang kebudayaan Riau ini kelompok kami melakukan wawancara dengan orang Riau yng sekaligus teman kami yaitu Syafri Doini. Selain itu, kami berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah, Anjungan Riau untuk melakukan pengamatan dan melakukan wawancara mendalam dengan guide bernama Kak Uci.

Instrumen pengumpulan data yang digunakan:
• Handycam
• Kamera Digital
• Recorder
• Handphone berkamera
• Alat- alat tulis

Pendahuluan
Latar belakang

Riau, daerah sebelah barat Indonesia adalah merupakan bagian dari keanekaragaman tanah air Indonesia. Riau menjadi menarik untuk dibahas karena daerah ini memiliki 2 wilayah yang berbeda, yaitu Riau daratn dan Riau kepulauan. Keunikan tanah air yang jarang dimiliki bangsa lain.

Orang Riau dengan logat khas melayu yang kental dengan kesopanan menjadi ciri khas daerah ini yang mulai memudar. Tak bisa dihindari adanya peresapan-peresapan budaya lain yang masuk ke Riau baik dari budaya lain di Indonesia maupun dari budaya luar negeri, sedikit banyak mulai mengikis kekayaan adat budaya orang Riau. Bahasa gaul Jakarta yang dianggap keren pelan-pelan mulai dengan biasa digunakan generasi muda asli Riau.

Kerangka Konseptual

Teori yang kami gunakan yaitu Teori Fungsionalisme (Bronislaw Malinowski), bahwa semua unsur kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat. Pandangan fungsionalisme terhadap kebudayaan Riau mempertahankan bahwa setiap pola kelakuan yang sudah menjadi kebiasaan, setiap kepercayaan dan sikap yang merupakan bagian dari kebudayaan dalam masyarakat ini memenuhi beberapa fungsi mendasar dalam kebudayaan bersangkutan. Salahsatu contohnya, pepatah-pepatah bijak pada gurindam yang bermanfaat sebagai pedoman hidup masyarakat Riau dalam melakukan pendekatan dalam setiap masalahnya.

Isi
Pembahasan dan Analisis

Dalam penelitian ini, kami membahas tentang Kebudayaan masyarakat Riau. Dalam penelitian ini, kami membahas tentang tujuh unsur kebudayaan dari Riau, diantaranya adalah bahasa, sistem pengetahuan. Kekerabatan, teknologi & peralatan hidup, mata pencaharian, kepercayaan dan kesenian. Dalam unsur – unsur kebudayaan tersebut, kami membahas seluruhnya tentang Riau. Dalam membahas dan menganalisis penelitian ini, kami menggunakan teknik penelitian Antropologi.

Unsur – unsur kebudayaan ini lebih kita bahas dengan spesifik. Kita membahasnya dengan detail. Seperti kepercayaan masyarkat Riau, kami menjelaskan secara detail hal – hal apa saja yang dianut dan yang sudah menjadi kepercayaan masyarakat Riau kami menganalisisnya bahwa masyarakat Riau yang mempunyai kepercayaan tentang hal – hal gaib adalah masyarakat Riau di daerah kepulauannya. Unsur – unsur kebudayaan lainnya yaitu seperti bahasa. Masyarakat Riau masih menggunakan bahasa Melayu yang berasal dari daerah mereka tersebut.
Kekerabatan yang terjalin antar sesama masyarakat Riau biasanya terjalin dengan baik, karena sikap masyarakat Riau ramah terhadap siapa saja karena mereka senang bersosialisasi dengan siapa saja. Masih banyak lagi hal – hal yang kita bahas tentang kebudayaan Riau. Untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan tentang kebudayaan Riau ini, kita menganalisis informasi yang kita dapatkan dengan cara wawancara dengan orang yang berasal dari Riau dan juga kita membuat karya tulis ini dengan menganalisis sumber – sumber yang menjadi panduan kami dalam membuat karya tulis ini.

Analisis data
Dari hasil pengamatan dan wawancara yang kami lakukan di TMII, kami melihat bahwa Anjungan Riau menempati areal yang cukup luas. Halamannya dihiasi dengan patung harimau dan beruang, sebagai gambaran penghuni hutannya yang sebagian belum terjamah. Di sudut lain, terlihat sebuah Kilang Minyak yang menunjukan sejarah masyarakat Riau dan mempengaruhi masyarakat Riau sekarang ini. Selain itu, terdapat sebuah patung buku besar berisikan Gurindam Duabelas dalam perkembangan bahasa dan sastra Melayu.
Maka dari itu, kami dapat mengetahui kebudayaan Riau lebih dalam dari berbagai aspek seperti:
• Adat istiadat orang Riau
• Kesenian
• Sistem kekerabatannya
• Kehidupan orang Riau

Sistem kekerabatan

Masyarakat di tanah Riau mengikuti garis keturunan laki-laki. Penduduk Riau sangat menjunjung tinggi kesopanan bersikap antar manusia walaupun sistem kekerabatannya tidak mengenal adanya kasta secara umum. Namun terdapat juga keturunan yang lebih dihormati dan disegani masyarakat yaitu keturunan anak dukun besar, Tetua Adat. Jabatan ini dihargai karena memiliki ilmu gaib yang tidak semua orang mendapatkannya. Ilmunya itu hanya diturunkannya ke anak laki-laki / keponakan laki-laki segaris keturunan, jadi dalam hal ini orang yang bukan merupakan kerabat dekat anak dukun besar tidak akan meneruskan ilmu tersebut.

Tempat pertemuan adat disebut surau dengan ketua adat atau dalam istilah islamnya disebut imam ialah kalipah. Kalipah juga diteruskan secara turun-temurun sehingga bersifat tertutup untuk orang lain yang bukan keturunan kalipah menjadi seorang kalipah. Hal ini dianut masyarakat Riau yang masih berlokasi di dusun atau biasa disebut kecamatan.

Mayoritas masyarakat Riau menganut agama Islam yang memperbolehkan adanya perkawinan antar sesama suku. Namun hal ini sangat bertentangan dengan hukum adat mereka yang melarang terjadinya perkawinan antar sesama suku karena anak yang dilahirkan akan cacat. Hal ini mereka percayai dan ikuti sedari dulu karena menurut sejarah adat mereka, dahulu kala ketua-ketua suku disana pernah bersumpah untuk tidak akan pernah kawin satu suku, apabila itu dilanggar mereka akan mengutuk keturunan yang diperoleh menjadi cacat. Hal ini oleh masyarakat kabupaten Rokanhulu, kecamatan Rambahilir, desa muara Rumbai, Riau ditaati hingga saat ini tanpa tau alasan dan tujuan sebenarnya para nenek moyang mereka melakukan perjanjian sumpah tersebut.

Kutie Anyie adalah salah satu contoh suku yang terdapat di Riau. Arti berdasarkan namanya ialah suku amis, namun suku ini terkenal dengan suku basah. Dikatakan sebagai suku basah karena setiap kali suku ini mengadakan acara seperti pernikahan pasti akan turun hujan. Hal ini disebabkan atas dasar sumpah nenek moyang suku mereka sendiri di zaman dulu. Dikisahkan nenek moyang dari suku Kutie Anyie dan kerabatnya dari suku lain pada suatu saat memancing bersama. Suku Kutie Anyie merasa kesal melihat temannya mendapatkan banyak ikan sedangkan dirinya sendiri belum mendapatkan seekor ikan pun. Ia bertanya pada temannya “darimana kau bisa mendapatkan ikan banyak ?” dengan sabar temannya menjawab “ini semua berasal dari Tuhan”. Suku Kutie Anyie ingin cepat mendapatkan ikan tanpa sabar. Emosinya semakin meninggi karena temannya dari suku lain terus mendapat ikan hingga akhirnya ia memberi sumpah dan mengutuk keturunan temannya itu nanti akan berbau amis seperti ikan. Kutukan itu ternyata berbalik ke dirinya sendiri namun bukan dengan bau amis ikan melainkan dengan air hujan tempat hidup ikan, yang akan menggangu setiap acara yang diadakan orang suku Kutie Anyie. Sistem kekerabatan orang Riau menjadi penuh dengan sopan santun dan saling menghargai antar sesama karena adanya cerita sejarah kutukan yang diterima suku Kutie Anyie.

Teknologi dan peralatan hidup daerah Riau

Teknologi bahari masyarakat Melayu Riau merupakan teknologi yang dalam suatu masyarakat dapat diamati dari keadaan sumber daya alam dan pemanfaatannya, bahan baku yang tersedia, peralatan yang dipakai dalam mendayagunakan sumber daya alam yang ada, kemungkinan sarana untuk menghasilkan peralatan ter¬sebut, serta matapencaharian masyarakat tersebut. Teknologi bahari masyarakat Melayu lebih mudah ditelusuri dari sejarah peralatan dan matapencaharian mereka dalam memanfaatkan sumber daya alam di lingkungan mereka.

Kata bahari sendiri mempunyai dua pengertian:
• Pertama, bahari yang berarti zaman kuno (ancient), yang semasa dengan masa adanya catatan sejarah sampai pada masa kemaharajaan Roma 467 A. P. (Wojowasita dan Poerwadarminta, 1974) atau sesuatu yang terkenal dan/atau sudah tidak penting lagi pada akhir-akhir ini, tetapi ada sejak masa lalu (Websters, 1966).
• Kedua, bahari ditafsirkan dari akar kata bahasa Arab yang banyak mempengaruhi bahasa Melayu, yaitu bahari yang berarti laut atau sungai besar. Dalam tulisan ini pengertian yang dipakai ditekankan pada yang pertama, walaupun dalam pembahasannya pengertian yang kedua akan tercakup. Teknologi bahari yang dimaksud di sini adalah teknologi yang dipakai oleh masyarakat Melayu Riau dalam mendayagunakan sumber daya alam yang ada di sekitarnya untuk mencapai keperluan hidupnya sejak zaman kuno.

Sejak zaman bahari masyarakat Melayu Riau sudah memiliki bermacam cara untuk memenuhi keperluan hidup. Artinya, sejak masa lampau masyarakat Melayu Riau telah menguasai teknologi yang disebut oleh penulis sebagai teknologi bahari.


Teknologi ini diklasifikasi menjadi :
• teknologi pertanian,
• Teknologi perikanan,
• Teknologi peternakan,
• Teknologi pertukangan,
• Teknologi perkapalan,
• Teknologi pertambangan, dan pengolahan bahan makanan.

Sistem teknologi yang dikuasai orang Melayu menunjukkan bahwa orang Melayu kreatif dan peka dalam memfungsikan lingkungan dan sumber daya alam di sekitarnya. Orang Melayu juga tidak tertutup terhadap perubahan teknologi, terutama teknologi yang menguntungkan dan menyelamatkan mereka.

Sistem Kepercayaan

Kepercayaan masyarakat di bagian kepulauan Riau mempunyai kepercayaan yang mengandung konsep dasar animisme shamanisme, tetapi tidak meliputi semua aspek kehidupan mereka. Keyakinan mengenai hal – hal yang bersifat gaib mempengaruhi perilaku menanggapi roh – roh, kekuatan – kekuatan gaib, hari baik dan naas, hantu – hantu, mambang dan peri, dan sekaligus mencerminkan kekhawatiran mereka terhadap berbagai ancaman dunia gaib yang dapat merugikan atau mencelakakan mereka. Masyarakat kepulauan Riau memang mempunyai banyak kepercayaan terhadap hal – hal yang tahayul. Mereka percaya dengan Mambang yaitu dunia roh tempat tinggal para hantu.

Hampir semua dari masyarakat kepulauan Riau yakin bahwa roh Datuk Kemuning dan isterinya, yaitu Saka bersemayam di Gunung Lingga. Roh – roh para anggota keluarga berada di tanjung, di pantai, kuala, suak, atau di bukit – bukit berbatu. Biasanya mereka selalu memberi pemakan atau yang sering disebut sesaji supaya mereka aman jika melewati tempat – tempat seperti, atau biasanya juga mereka meminum sedikit air laut yang berada di tempat tersebut untuk menandakan bahwa mereka adalah “orang sendiri” dan karena itu mereka berharap tidak diganggu.

Hantu selalu mereka bayangkan sebagai manusia, yang mereka sebut “orang tanah”, “orang tanjung”, “orang lekuk”, “hantu laut”, “hantu batu”, “hantu jeram”, “hantu sungai”, dan sebagainya. Hantu-hantu tersebut di atas memang berasal dari dunia makhluk hantu. Selain itu ada hantu yang merupakan penjelmaan manusia seperti hantu polong (hantu pencekik leher, yang menjelma sebagai manusia yang mengamalkan “ilmu pengasih”), yaitu berusaha memikat korbannya agar senantiasa tampak menarik. Hantu penjelmaan manusia lainnya adalah pontianak (hantu mati anak), yaitu hantu penjelmaan wanita yang meninggal dunia sewaktu melahirkan, yang terutama mengganggu pria. Kemudian masyarakat kepulauan Riau masih mengenal hantu dukang, atau hantu pengisap darah, yang merupakan penjelmaan dari bayi yang lahir tanpa nyawa (karena keguguran, lahir mati, dan sebagainya).

Masyarakat kepulauan Riau juga percaya akan kekuatan gaib, yang antara lain bersumber pada benda-benda seperti buntat, batu akik, akar bahar, keris dan sebagainya, dan pada benda-benda yang bersumber pada manusia. Bomoh (dukun) dianggap memiliki kekuatan gaib, yang dapat digunakan untuk tujuan baik maupun buruk, mencelakakan lawan, atau menghalau serangan lawan, serta menyembuhkan penyakit yang berasal dari perbuatan manusia maupun karena tersampuk (“kemasukan” atau diganggu) roh, hantu, dan sebagainya. Dengan kekuatan gaibnya, seorang bomoh dianggap mampu mengatasi gejala-gejala alam yang merugikan manusia, seperti menenangkan ombak dan badai.

Kesempatan orang untuk menjadi bomoh tak terbatas pada pria; wanita pun dapat menjadi bomoh yang sama besar peran dan pengaruhnya seperti bomoh pria. Antara bomoh yang satu dengan lain dapat timbul persaingan untuk memperebutkan pengaruh, yang kadang-kadang mereka lakukan secara terbuka dengan becoba (mengadu kekuatan gaib). Kekuatan gaib dapat diwariskan kepada sanak keluarga, tetapi dapat juga diajarkan kepada orang lain. Sebelum pengetahuan itu diteruskan, harus dipertegas dahulu hubungan antara keduanya, yaitu bomoh sebagai buru, dan orang yang menerima pengetahuan itu sebagai muridnya, yang selanjutnya merupakan hubungan antara orangtua dan anak, yang diikat oleh prinsip-prinsip hubungan timbal-balik. Dengan adanya hubungan ini ada syarat untuk memberi “asam garam” atau imbalan atas pengetahuan yang diajarkan. Pemberian “asam garam” ini berupa pemberian hadian-hadian seperti sandang, uang, bahkan jaminan hidup. Sampai sekarang pun masih saja banyak yang menganut kepercayaan tersebut karena mungkin sudah menjadi turun temurun dari nenek moyang mereka.

Biasanya masyarakat Riau yang masih mempercayai hal – hal yang seperti itu kebanyakan berasal dari kepulauannya, karena mayarakat kota biasanya sudah tidak ada kepercayaan seperti tiu dikarenakan sudah banyak dari mereka yang terpelajar jadi mereka tidak lagi mempercayai hal – hal seperti itu.

Mata Pencaharian

Berbicara tentang mata pencaharian, tentulah setiap kota atau daerah memiliki ciri khas yang berbeda. Seperti yang kita tahu, masyarakat kota Riau terbagi 2 yaitu Riau daratan dan Riau kepulauan yang dipisahkan oleh selat malaka, mata pencaharianya pun terlihat agak sedikit berbeda, sebagian besar masyarakat Pekanbaru-Riau daratan (dumai, pekanbaru) ber mata pencaharian sebagai petani, karena itulah pemerintah sangat menjaga kelestarian pedesaan dan sector pertanian Riau. Tidak heran bila kita melihat banyak sekali sawah disana, masyarakat Riau ini ada yang mempunyai sawah sendiri atau bahkan menyewa dengan dengan orang lain untuk mendapatkan penghasilan. Masyarakat Riau senang bertani karena daerahnya masih subur dan hijau. Selain bertani, mereka juga mengandalkan perkebunan, terutama perkebunan kelapa sawit yang biasanya dibentuk di daerah dataran tinggi. Kelapa sawit ini biasanya diekspor ke kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung dll. Selain itu ada sebagian kecil masyarakatya yang bermata pencaharian melalui pertambangan minyak bumi.

Berbeda dengan Riau kepulauan (batam, tanjung pinang), masyarakatnya lebih banyak yang mencari penghasilan melalui memancing atau menjadi nelayan, karena mereka tinggal dikepulauan tentulah mereka menyenangi laut, ikan yang terkenal di daerah ini yaitu ikan salai, yang biasa dimasak cabai hijau oleh masyarakat sana.

Riau merupakan salah satu suku bangsa yang kaya akan sumber daya alam, baik kekayaan yang terkandung di perut bumi yaitu berupa minyak dan gas bumi, emas, dll. maupun kekayaan hutan dan perkebunannya, belum lagi kekayaan sungai dan lautnya. Dalam perekonomian, tenaga kerja masyarakat Riau salah satunya yaitu perkebunan. Perkebunan yang berkembang adalah perkebunan karet dan perkebunan kelapa sawit, baik itu yang dikelola oleh negara ataupun oleh rakyatnya.

Selain perkebunan, kurang lebih sekitar 55 % masyrakat Riau bermata pencaharian petani, dan sektor pertanianlah yang memiliki potensi utama yang harus dikembangkan. karena kepulauan Riau memiliki tanah yang subur sehingga termotivasi untuk menjadikan lahan pertanian. Mereka menanami berbagai macam tanaman yang sangat baik untuk dikembangkan contohnya seperti buah-buahan, sayuran, kelapa, kopi, nenas, cengkeh, palawija, holtikultura. Penanaman tersebut pun juga disesuaikan dengan lahan-lahan yang strategis. Masyarakat Riau pun juga mengembangkan usaha budidaya perikanan.

Sistem Kesenian Suku Bangsa Riau

Riau memiliki unsur kesenian yang bermacam-macam. Mulai dari tarian, lagu-lagu, musik, seni teater, dan Sastra.
Musik melayu Kepulauan Riau dan musik yang berkembang oleh masyarakat Riau mencakup Musik melayu. Baik dalam bentuk Musik Zapin, Musik Silat, Musik Gamelan, Musik Angklung, Musik Gamelan, Musik Bangsawan, Musik Barongsai, Musik Mendu dan masih banyak lagi.
Riau terkenal akan ”Mak Yong”. Mak Yong merupakan salah satu jenis kesenian Melayu yang menggabungkan unsur-unsur ritual, tari, nyanyi, dan musik dalam pementasannya. Dalam pertunjukkannya, Mak Yong mempertemukan antara pemain dan penonton. Dengan perkataan lain, pementasannya mempertemukan pemain dengan penonton dalam ruang, waktu, dan tempat yang sama. Kesian Melayu Mak Yong ini berasal dari daerah, yang dari segi budaya, termasuk rumpun Melayu, yaitu dari daerah Nara Yala (Thailand), kemudian menyebar ke daerah Kelantan (Malaysia), tetapi tanpa memakai topeng seperti di tempat asalnya. Dari Kelantan ini Mak Yong kemudian menyebar ke Riau.

Tarian-tarian Khas Riau:
>> Tari Zapin (Paling terkenal)
>> Tari Mak Yong
>> Tari Dayung Sampan
>> Tari Sekapur Sirih
>> Tari Mendu
>> Tari Marhaban, dsb.

Seni Teater:

Randai, Ketoprak, Wayang orang, dsb.
Riau sangat terkenal dengan sastranya dari dahulu kala,ini terbukti banyaknya sastrawan-sastrawan dari Riau dan salah satunya yang terkenal yaitu Raja Haji Fisabilillah,yang terkenal dengan Gurindam Dua Belas.

Sistem Pengetahuan Suku Bangsa Riau

Sistem pengetahuan yaitu mengenai pengetahuan alam sekitar, tentang bahan mentah/galian, dan tentang kelakuan dengan sesama manusia.

Pengetahuan Alam Sekitar:
Provinsi Riau terletak di Pulau Sumatra. Di sebelah utara berbatasan dengan Selat Singapura dan Selat Malaka, di sebelah selatan dengan Provinsi Jambi dan Selat Berhala, di sebelah timur berbatasan dengan Laut Cina Selatan (Provinsi Kepulauan Riau), dan di sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Sumatra Barat dan Provinsi Utara.
Riau memiliki berbagai macam suku bangsa. Seperti Melayu, Bugis, Jawa, Arab, Tionghoa, Padang, batak, dan Flores.

Potensi daerah di Kepulauan Riau yaitu adanya Sektor Kelautan, Sektor Peternakan, Pertanian, dan Pariwisata. Sektor Kelautan merupakan kondisi yang sangat mendukung Masyarakat Riau untuk mengembangkan budidaya perikanan. Potensi di bidang peternakan difokuskan pada itik, ternak ayam, ternak kambing, dan sapi (umumnya masih dilaksanakan oleh peternak kecil). Sektor Pertanian merupakan sektor yang strategis untuk menjadikan lahan pertanian seperti palawija, kelapa sawit, cengkeh, kopi, dsb. Sedangkan Pariwisata yaitu Kepulauan Riau yang merupakan tempat wisata dari mancanegara kedua setelah Bali. Objek wisatanya terdiri dari Pantai Melur, Pantai Abang, dan Pantai Nongsa.

Transportasi di Kepulauan Riau disesuaikan dengan kondisi alam dan jarak antar wilayahnya. Contohnya seperti Transportasi Laut terdiri dari: Perahu motor kecil atau biasa disebut dengan pompong, Kapal ferry, speedBoat. Sedangkan Transportasi Daratnya tidak beda jauh dengan di Jakarta, seperti taxi, angkot, bus, dan ojek.
Bahan Galian:
Minyak bumi, gas alam, Timah, Bauksit, dsb.
Kelakuan Masyrakat Riau dengan Sesama manusia:
Masyarakat Riau merupakan Masyarakat yang ramah, selalu gotong royong antara satu sama lain, dan menjunjung tinggi nilai kesopanan.

Bahasa
Seni sastra daerah ini terdiri dari sastra tulis dan sastra lisan, sastra tulis berupa syair, hikayat, kesejarahan, kesastraan adat istiadat, dan sebagainya. Sastra lisan terdiri dari pantun, ungkapan (pepatah, petitih, peribahasa, bidal, perumpamaan, dan sebagainya) mantra, cerita rakyat, koba, kayat, dan nyanyi panjang.
Gurindam Duabelas adalah salah satu hasil karya Raja Ali Haji dan tetap dimiliki oleh putera puteri melayu yang mencintai istana, balai adat, dan masjid.
”Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia – sia
Jika hendak mengenal orang yang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia
Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu
Jika hendak mengenal orang yang berakal
Didalam dunia mengambil bekal
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai”

Pasal 5, Gurindam Duabelas

Upacara adat perkawinan

1. Merisik, yaitu dari pihak pria berkunjung menyelidikiapakah si gadis sudah ada yang punya atau belum, lalu mengutarakan perasaan kepada si gadis.
2. Meminang, yaitu utusan dari pihak pria membawa Tapak Sirih, memberi tanda pertunangan dan menentukan hari tanggal pelaksanaan.
3. Antar belanja, yaitu musyawarah kedua belah pihak selesai antar tande, berupa uang tunai serta diiringi dengan persalinan pakaian wanita berupa cincin belah rotan dan perlengkapan rumah tangga
4. Menggantung, yaitu sanak keluarga berkumpul untuk persiapan memasang tenda
5. Malam berinai curi di rumah masing – masing yaitu berkumpul dengan sanak saudara
6. Akad nikah
7. Tepung tawar, yaitu pemberian doa restu
8. Berendam, yaitu mandi dengan air serai 7 bunga
9. berkhatam membaca kitab suci Al-Quran
10. Bersanding di pelaminan
11. Makan berhadap – hadapan
12. Mandi damai
13. Menyembah
Penutup
Kesimpulan

Makalah ini kami buat bertujuan untuk mempelajari budaya yang dimiliki daerah lain, terutama Pekanbaru-Riau. Banyak hal dan pengetahuan yang kami dapatkan melalui penelitian ini. Berdasarkan data yang kami peroleh, kami dapat menyimpulkan bahwa masyarakat Riau mempunyai toleransi yang sangat tinggi kepada sesama, mereka pun mempunyai beberapa adat kesenian yang unik dan khas. Mata pencaharian mereka pun berdasarkan pada cirri khas dan sector alam yang mereka punya.












No comments:

Post a Comment

Post a Comment